Ibu, Betapa berartinya engkau bagiku

Wednesday, June 20th 2012. | NASEHAT, RELIGY

Ibu menangisIbu, Betapa berartinya engkau bagiku, Tanpa sadar kita telah beranjak dewasa dengan segala pahit manis kehidupan yang telah kita lalui dan secara tidak sadar bahwa semua ini terjadi dan keberadaan kita di muka bumi tak lepas dari jasa seorang ibu yang telah mengandung selama berbulan-bulan dan melahirkan kita dengan susah payah dan merawat kita dengan penuh kasih sayang dan rela mengorbakan waktu, materi dan segalanya demi untuk melihat kita menjadi orang yang berguna kelak. Tapi banyak kita saksikan pemandangan yang sunggu ironis di mana sebagian orang yang telah menyia-nyiakan dan mengabaikan orang tuanya (terutama ibunya) setelah ia tumbuh besar dan dewasa.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

Qs. Al-Ahqaaf : 15

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah terbalaskan dan tak akan pernah tergantikan. Ingatkah kita dikala sakit ibu yang dengan sabarnya di samping kita merawat dan sampai keluar dari bibirnya yang lesu sambil mengusap kepala kita dan berujar “Andai saja bisa, biarlah saya yang menanggung sakit dan beban anakku ini yaa Allah”. Inilah salah satu bukti betawa cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tak lekang oleh waktu. Contoh lain bagaimana seorang ibu di Palestina yang siap memasang badan hanya untuk melindungi anaknya dari serangan peluru nyasar dan dentuman bom, mereka rela mati asal anaknya bisa terselamatkan.

Seorang ibu rela menahan teriknya matahari, terpaan hujan dalam mencari nafkah di jalanan, di sawah, dikebun. terluka, jatuh, bahkan menahan sindiran dan hinaan dari orang sekitar hanya demi memperjuangkan kelangsungan masa depan kita. Setelah itu, tak pernah sekalipun dalam do’anya melupakan agar anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna bagi dirinya dan untuk orang lain. Dia tak pernah mengharap balas, dia tak pernah mengharap pamrih, dia lakukan semua dengan penuh ridho dan keihlasan.

Das'ad Latief

Kini, tibalah masa tuanya dimana ia tak mampu lagi bekerja dan mulai sakit-sakitan. Tinggallah ia di rumah sendiri tanpa ditemani lagi anak-anaknya yang telah berhasil menjadi sarjana dan berpenghasilan yang cukup dan Ibu hanya bisa bangga dan mengelus dada dan berkata “Terima kasih yaa Allah, engkau telah mangabulkan semua pengharapanku”. Tak ada kata penyesalan, tak ada rasa dendam, dan tak ada hujatan yang keluar dari mulutnya. Dan yang paling tragis berapa banyak orang yang telah menterlantarkan ibunya yang telah menanjak di usia renta? memasukkannya di panti jompo, membiarkannya sakit tanpa ada lagi yang merawatanya, tak ada lagi yang mengusap air matanya saat merasakan sakti, tak ada lagi yang membersihkan kotorannya, tak ada lagi yang mengusap kepalanya, dan tak ada lagi yang mendo’akannya.

Kasih Ibu

Sobat, kini saatnya kita harus sadar dan memahami betapa pentingnya arti seorang ibu dalam hidup kita, jangan sia-siakan mereka, rangkul dan rawatlah dia hingga ajal menjemputnya dimna kita tak bisa lagi menggapai tangannya untuk memohon maaf kepadanya. Camkanlah kawan “Ibu, Betapa berartinya engkau bagiku“.

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,