Seberapa Pantaskah Kita Berpuasa?

Thursday, August 9th 2012. | PUASA, RELIGY

tidak puasaSeberapa Pantaskah Kita Berpuasa? Ini sebuah pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri kita masing-masing.  Ini merujuk pada Perintah Allah yang paling mendasar dalam firman-Nya pada Surah Al-Baqarah Ayat 183 tentang perintah berpuasa bagi orang yang beriman, dan tujuan akhir dari puasa itu sendiri adalah “La’allaku tattaquun”.  Saya tidak akan menitik beratkan pada tujuan akhir ayat ini namun coba kita perhatikan pada penggalan awal ayat tersebut yaitu panggilan kepada orang-orang yang beriman, sebentar akan kita kaji lebih mendalam dari maksud penggalan ayat tersebut. sebelumnya kita lihat dulu selengkapnya Surah Al-Baqarah ayat 183 berikut ini :

Q.S. Al-Baqarah : 183

Artinya :

Hai orang-orang diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah : 183)

Baiklah, mari kita kaji bersama mengenai kalimat pembuka yang saya garis bawahi dari ayat tersebut di atas. Allah berfirman (berseru) atau memanggil kepada orang-orang yang beriman dan tidaklah dikatakan “Hai sekalian manusia” atau dalam bahasa arabnya “Yaa Ayyuhallan naas“. Penekanan dari ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dipanggil adalah orang yang beriman. Lalu bagaimanakah sebenarnya ciri atau tanda-tanda orang yang beriman itu? Mari kita lihat salah satu ciri orang yang beriman sesuai  penjelasan pada surah Al-Baqarah ayat 3 :

Al-Baqarah ayat 3

Artinya :

Yaitu orang-orang yang percaya kepada yang ghaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki  yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Nah, Ayat ini secara gamblang menyebutkan bahwa salah satu ciri orang yang beriman adalah mereka yang mendirikan shalat, dan secara harfiah ini adalah harga mati yang tidak ditawar-tawar lagi. Lalu pertanyaannya, Apakah kita sudah masuk kriteria orang yang dipanggil oleh Allah Swt dalam Surah Al-Baqarah :183  di atas? sepantasnya malulah kita ini berpuasa namun tidak termasuk dalam orang-orang yang mendapat panggilan suci sang khalik.

Sedikit analogi

Ketika seorang Gubernur akan melantik calon bupati dan mengundang (memanggil) beberapa orang yang telah masuk kriteria untuk dilantik menjadi bupati di sebuah aula tempat pelantikan. Namun anda yang tidak diundang ikut hadir dan mengambil tempat duduk dalam deretan calon bupati yang telah disiapkan. Namun setelah Gubernur memperhatikan adanya keganjalan dalam aula tersebut dimana ada kekurangan satu buah kursi yang seharusnya cukup sesuai daftar orang-orang yang telah diundang. Dan usut punya usut akhirnya anda ditemui sebagai salah satu penyusup. Maka secara tidak terhormat anda akan diminta untuk meniggalkan kursi tersebut karena anda memang tidak dipanggil dan tidak pantas berada di kursi tersebut. Maka apa yang terjadi? anda harus siap menanggung malu di hadapan orang banyak dalam forum yang terhormat. Begitulah analaogi panggilan Allah untuk orang-orang yang berpuasa.

Sering kita jumpai banyak orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa namun menyepelekan yang namanya Sholat 5 waktu, berapa banyak orang yang berbuka puasa di mall, di pinggir pantai, di warung, di keramaian dan tempat umum lainnya, setelah berbuka puasa tidak lagi mempedulikan untuk malaksanakan sholat magrib? Sadar atau tidak, ini kesalahan besar yang perlu kita introspeksi kembali. Untuk apa kita berpuasa kalau hanya akan mendapatkan lapar dan haus?

Bahkan ada yang lebih parah lagi, banyak orang yang berpuasa dan di sela-sela kesibukan pekerjaannya. Berapa banyak supir mobil, tukang becak, buruh bangunan, pegawai kantoran, pebisnis online, direktur, dan profesi lainnya yang mengatakan dirinya berpuasa  namun tak pernah sedikit pun teringat apalagi melaksanakan sholat 5 waktu. Pantaskah orang-orang ini disebut orang beriman? dan Inikah wajah umat Islam yang sekarang? Dan semoga dengan artikel ini bisa menjawab Seberapa Pantaskah Kita Berpuasa?

tags: , , ,