Istiqamah Sang Tukang Becak

Friday, August 17th 2012. | NASEHAT, RELIGY

tukang becakIstiqamah Sang Tukang Becak. Awal cerita seorang pengusaha kaya raya namun juga memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Sholat 5 waktu tak pernah putus bahkan dibingkai dengan rawatib, tidak hanya puasa ramadan dilaksanakan, senin-kamis pun laksana kewajiban. Zakat dan sedekah merupakan pintu pembuka rejeki sekaligus pembersih segala rejeki, itulah prinsip hidupnya dalam mengelola harta, dan yang terakhir adalah hampir seluruh tetangganya di naikkan haji olehnya. Dialah H. Burhan, Sang Dermawan dari Kota Palu.

Pukul 9 malam H. Burhan tiba di kota Makassar yang berjuluk kota Anging Mammiri. setelah kurang lebih setengah jam mengendarai bus dari Bandara Hasanuddin tibalah di sebuah Hotel berbintang 5 di Kota Makassar ini. Selanjutnya H. Burhan check in dan langsung menuju kamarnya dibantu Room Boy hotel tersebut. Oleh si room boy, pak Haji ditawarkan sesuatu,

Pak Haji, mau selimut gak? tanya si room boy.

“Hmm bukannya di temptat tidur sudah ada selimutnya?” timpal H. Burhan.

Oooh… yang ini lain pak haji, yang ini selimutnya bisa mijat sekaligus bisa melakukan pekerjaan yang lain buat pak haji. Kata si room boy.

H.  Burhan (mulai mengerti): Astagfirullah,… Maaf, saya tidak butuh, saya mau istirahat. terima kasih atas tawarannya. Kata H. Burhan dan selanjutnya mempersilahkan si room Boy untuk meninggalkannya sendiri.

Pukul 02.30 dini hari, seperti biasanya haji Burhan bangun untuk melaksanakan Shalat Lail dan dilanjutkan dengan zikir. Setelah itu dia memandang dari balik jendela menikmati kerlap-kerlip Kota makassar dari Lantai 14 Hotel Clarion. Munculllah keinginannya untuk berkeliling kota di dini hari tatkala kota terlihat sepi. Dengan pakaian sederhana, H. Burhan keluar dari kamar selanjutnya menuju ke lantai dasar dan berjalan menuju ke pinggir jalan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat seorang tukang becak yang tertidur pulas di atas becaknya dengan berselimut sarung. Timbullah niatnya untuk menikmati Kota Makassar dengan menggunakan becak. Dia berjalan menghampiri sang tukang becak yang tertidur dan perlahan dia membangunkannya.

Daeng, daeng ..! Sapanya sambil memukul perlahan tubuh sang tukang becak.

Setengah tersentak, daeng becak bangun dan berucap,”Astagfirullah“! sambil mengusap muka dengan tangannya.

Bisa tidak daeng antar saya berkeliling kota dengan menggunakan becak? tawar haji Burhan.

Bukannya naik taksi lebih cepat pak? jawab si Tukang becak.

Saya mau menikmati kota dengan becak daeng. katanya.

Ohh baiklah kalo begitu pak haji, silahkan naik.!

Setelah Pak Haji Burhan naik ke atas becak, sang tukang becak berucap “Bismillah” lalu mulai mengayuh becaknya melintasi jalan Alauddin, Andi Tonro dan Veteran Selatan dan selanjutnya berbelok menuju Jl. Rappocini Raya. H. Burhan mulai terkesan dengan prilaku sang tukang becak. Dalam perjalanan, tiba-tiba Handphone H. Burhan lowbat. Dia lalu bertanya pada sang tukang becak ;

Tau ndak dimana tempat jual cas (charger)?

“Oooohh… maaf, saya tidak pernah urus dan tau tentang hal yang seperti itu pak Haji”, Kata sang tukang becak yang mengetahui dari beberapa teman seprofesinya bahwa kalo ada tamu hotel butuh cas, itu mengindikasikan bahwa dia butuh wanita penghibur.

H. Burhan langsung paham maksud dari sang tukang becak. lalu dia berkata, “Serius, saya mau beli cas, HP saya lowbat kebetulah casnya saya lupa bawa dari Palu.

Ooohh.. maaf pak haji. jam segini belum ada toko elektronik atau toko HP yang buka.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 04.20 dan suara kumandang ayat-ayat suci mulai terdengar dari beberapa mesjid di jalan rappocini. Di penghujung jalan Rappocini, tiba-tiba sang tukang becak menyapa haji Burhan;

“Maaf Pak Haji, saya terpaksa tidak bisa mengantar pak Haji menuju ke hotel kembali, karena saya harus menuju ke tempat kerja saya yang lain. sebagai alternatif, saya akan memanggil tukang becak yang lain untuk mengantarkan pak haji.

Lho, kenapa bisa begitu daeng? saya masih ingin berkeliling kota bersama daeng. Nih imbalan buat daeng untuk menggantikan kelelahan daeng, (sambil menyodorkan uang sebesar Rp 500.000,-

Maaf pak haji, saya tidak bisa. timpalnya dengan nada datar.

“Kalo begitu, Ini saya tambah lagi” sambil menunjukkan uang sebesar Rp 1.500.000,-” kata H. Burhan.

Setengah gagap dan sedikit gugup, sang tukang becak mulai bimbang dan akhirnya memutuskan untuk tetap tidak menerima pemberian pak H. Burhan. Sekali lagi maaf pak haji, saya tetap tidak bisa.

Baiklah daeng, kalo begitu antarkan saya ke tempat kerja kamu. balas H. Burhan.

Akhirnya si Tukang Becak menggayuh becaknya menuju ke Masjid H.M. Asyik. di sekitaran Jl. A.P. Pettarani. Setelah memarkir becaknya, Sang tukan becak mengambil sebuah bungkusan di bawah kursi becaknya dan masuk menuju mesjid dan kini telah berganti pakaian yang serba bersih. Dari kejauhan, pak haji menyaksikan sang tukang becak menyapu dan mengepel lantai masjid dibantu oleh 2 orang temannya. Selanjutnya Sang tukang becak mengambil mic dan mengumandangkan Adzan pertanda waktu shalat subuh telah masuk. Terdengar oleh Haji Burhan betapa merdu dan membahana suara sang tukang becak.

Tanpa pikir panjang, H. Burhan bergegas mengambil air wudhu dan selanjutnya melaksanakan sholat subuh dan mengambil tempat duduk pada shaf ke dua tepat di belakang sang tukang becak. setelah melaksanakan sholat subuh dan hampir semua jamaah telah meninggalkan masjid, namun sang tukang becak masih duduk berdo’a dan tafakkur dan seolah-olah menyesali sesuatu. Dari depan, Haji Burhan mendengar samar suara sang tukang becak berucap “

Yaa Allah, Engkaulah Maha pemberi rejeki dan tak akan pernah aku bisa menghitung semua nikmat yang telah Engkau limpahkan padaku. Terima kasih yaa Allah Engkau masih memelihara imanku dan aku hampir saja terjerumus pada manisnya  materi yang sifatnya sementara. Yaa Allah, ampunilah atas segala kehilafanku ini, sungguh aku tak mampu menjual Aqidahku dengan materi, aku menginginkan ridha dari-Mu yaa Allah.

Haji Burhan tersentak dan sadar bahwa sungguh sikap istiqamah yang dimiliki sang tukang becak telah membuka tabir bahwa materi bukanlah segalanya. Cinta dan Ridha Allah tidak akan tertandingi olehnya. Setelah selesai berdo’a, keduanya kembali menuju becak yang telah diparkir sebelumnya dan selanjutnya menuju ke Hotel Clarion.

Sesampainya di depan Hotel, pak Haji Burhan lalu turun memberikan ongkos becak dan 2 buah amplop kepada si tukang becak. Sang tukang becak bertanya ;

“Apa ini pak Haji? untuk apa ini.

“Begini daeng, dari sejak pertama saya membangunkanmu aku mulai terkesan akan aqidahmu hingga sampai di mesjid dan mendengarkan do’a dan keluh kesahmu tadi, Ini ada 2 amplop yang isinya tiket untuk berangkat haji. kamu berhak mendapatkan ini. Berangkatlah bersama istrimu ke Tanah suci untuk menunaikan panggilan Allah terhadapmu melalui perantara tanganku ini, dan kamu tidak boleh menolak panggilan ini. Allah sudah lama merindukanmu Daeng. Bawalah tiket ini ke Jalan A. Mappanyukki perwakilan saya di sana”.

Dengan gugup sang tukang becak tidak terasa seluruh tubuhnya bergetar, seraya berucap syukur kepada Allah atas semua rezki dan rahmat yang dilimpahkan padanya. Selanjutnya mereka berjabat tangan dan sang tukang becak tak henti-hentinya berterima kasih kepada H. Burhan, dan Haji burhan berkata; “Rezki itu Allah yang atur, kita tidak akan mengetahui dari arah mana datangnya rejeki itu, dan tidak akan pernah rejeki itu bertukar ke orang lain”.

Cerita ini di angkat dari kisah nyata, namun nama dan tempat tidak seperti kisah sesungguhnya. Wassalaam

tags: , , , ,