Jangan Mati Sebelum Ke Toraja

Saturday, September 22nd 2012. | GUNUNG, TRAVEL

Tana TorajaJangan Mati Sebelum Ke Toraja. Inilah slogan yang pernah dikumandangkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo untuk menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara agar mengunjungi Sulawesi Selatan dan terkhusus untuk Kabupaten Tana Toraja. Slogan ini menggambarkan bahwa belum lengkap perjalanan wisata anda jika belum pernah memijakkan kaki di salah satu daerah wisata Sulawesi Selatan ini.

Toraja

Cerita akan pesona keindahan Toraja sudah tak terbantahkan lagi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa tempat wisata favorit di Toraja yang menjadi andalan Sulawesi Selatan ini di antaranya :

Batu Tumonga

Batutumonga TorajaPerjalanan ke Batu Tumonga akan memanjakan anda dengan hamparan sawah dan hijaunya alam serta udara bersih yang belum tercemar oleh polusi kendaraan seperti di  Ibukota jakarta. Di sepanjan perjalanan anda akan merasakan dan menyaksikan indahnya alam pedesaan yang masih perawan. Jika anda membayangkan ingin menikmati keindahan panorama tana toraja dari ketinggian, Batu Tumongalah tempatnya.

Perjalanan menuju ke Batu Tumonga menempuh jarak kurang lebih 22 km dari Kota Rantepao. Baru Tumonga terletak di lereng Gunung Sesean yang merupakan gunung tertinggi di toraja,  di sini anda akan puas menikmati panorama keindahan alam sekaligus menikmati hawa dingin pegunungan dan pemandangan alam yang menakjubkan. Salah satu situs wisata yang akan anda temukan di Batu Tumonga di antaranya 56 batu menhir dengan ketinggian sekitar 2 – 3 meter dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah.

Ke’te Kesu’

Kete' Kesu' TorajaKe’te Kesu’ merupakan sebuah komplex rumah adat Tongkonan (Rumah Adat Toraja) yang lengkap dengan lumbung padinya (Alang Sura’). Obyek wisata ini sudah ada sejak tahun 1979 yang kemudian dilestasikan dan di pelihara oleh pemerintah dan masyarkat setempat. Rumah adat tongkonan yang ada di sini merupakan warisan dari leluhur Puang ri Kesu’  yang berfungsi sebagai tempat musyawarah, acara seremonial, menetapkan dan melaksanakan aturan-aturan adat, baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup bermasyarakat di daerah Kesu’, dan juga di seluruh Tana Toraja, yang disebut dengan aluk Sanda Pitunna (7777).

Ke’te Kesu’ juga dilengkapi dengan cagar budaya seperti areal upacara pemakaman (rante), kuburan purba yang bermotif khas khas Toraja. Di sini juga akan tampak hamparan pemukiman, perkebunan dan persawahan yang akan memanjakan mata anda akan indahnya pesona alamnya.

Londa

Londa TorajaLonda merupakan kuburan atau makam yang ditempatkan di dalam goa oleh masyarakat Toraja, makam ini umumnya terdiri dari keluarga yang turun-temurun. Di dalam goa akan tampak tengkorak dan tulang-tulang manusia yang berserakan. Londa terletak de Desa Sendan Uai, Kecamatan Sanggalai, berjarak sekitar 5 Kilo meter ke arah selatan dari Rantepao. Kuburan Goa Londa memliki kedalaman kurang lebih 900 m dengan ketinggian sekitar 1 meter. Jadi jika anda ingin melihat langsung kuburang yang paling dalam, maka anda harus merayap. Namun anda akan takjub menyaksikan kearifan lokal Tana Toraja ini setelah anda menyaksikannya.

Lemo

Lemo TorajaLemo merupakan Tempat pemakaman bertempat di dinding gunung (tebing) yang tinggi yang menyerupai rumah raksasa  sebagai rumah para arwah. Jumlah lubang pada batu kuno terdiri dari 75 buah dan terdapat tau-tau (orang-orangan) yang berdiri tegak sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di desa Lemo.

Di pemakaman ini Anda akan melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di dinding tebing yang curam. Pemakaman ini adalah perpaduan antara ritual, kematian, seni, dan budaya. Sejak era 60-an, Lemo sudah mulai dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk menyaksikan keunikan kearifan lokal masyarakat Toraja ini.

Pallawa

Pallawa TorajaMenurut sejarah, Dahulu kala seorang pemuda yang berasal dari Gunung Sesean bernama “Tomadao” berpetualang dan bertemu dengan seorang gadis yang bernama “Tallo Mangka Kalena”. Setelah merajut hati, keduanya lalu sepakat untuk menikah, dan menetap di sebuah desa di sebelah timur Pallawa yang saat ini bernama Kulambu. Dari hasil perkawinannya, lahirlah seorang putera yang diberi nama “Datu Muane” yang kemudian menikah dengan seorang gadis bernama Lai Rangri’, selanjutnya mereka berkembang dan membentuk sebuah kampung yang merupakan benteng pertahanan untuk menahan serangan dari daerah lain. Satu hal yang unik, ketika terjadi peperangan, pihak yang kalah dalam hal ini orang yang terbunuh, maka darahnya akan di minum sementara dagingnya akan dicincang dan disebut dengan Pa’lawak. Pada pertengahan abad ke 11 Pa’lawak diubah menjadi Palawa’ berdasarkan musyawarah adat Dan bukan lagi daging manusia yang dimakan, tetapi diganti dgn ayam, sehingg disebut Pa’lawa’ manukdan dari sinilah asal muasal Pallawa.

Pallawa lebih identik dengan Tongkonan, sehingga populer Tongkonan Pallawa. Tongkonan adalah Rumah adat khas Toraja yang atapnya melengkung seperti sampan atau perahu. Di bagian depan biasanya dihiasi dengan tanduk kerbau yang melambangkan strata atau status sosial. Rumah adat ini secara sepintas mirip dengan rumah adat padang atau Minangkabau, hanya saja rumah adan minang terdiri dari beberapa lapisan lengkungan sementara tongkonan hanya menggunakan satu lengkungan saja. Disinyalir ada kekerabatan budaya antara ke dua daerah ini.

Desa Pallawa merupakan kompleks yang terdiri dari deretan rumah adat Tongkonan yang masih asli, dimana atapnya terbuat dari bambu, Tongkonan tersebut dihiasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat, yang menandakan status sosial pemilik rumah. Lokasi wisata ini terletak kurang lebih 12 kilometer ke arah utara dari Rantepao.

Khas Toraja

Khas TorajaSelain 5 tempat wisata di atas, masih banyak lagi tempat wisata yang bisa anda kunjungi di Toraja. Dan berbagai ke-khasan dari bumi Toraja bisa anda saksikan di sini seperti budaya Ma’badong, Upacara Rambu Solo, Tedong Bonga (Kerbau Bule’) yang harganya hingga ratusan juta, Batik Toraja, Kopi Toraja, Parang Toraja, miniatur rumah Tongkonan, dan masih banyak lagi keunikan yang bisa anda jumpai. Untuk menyaksikan puncak dari keramaian dan seluruh perayaan budaya Toraja dan di hiasi dengan berbagai perlombaan akan terangkum dalam sebuah perhelatan akbar yang telah dicanangkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan H. Syahrul Yasin Limpo yakni Lovely Desember yang puncak kegiatannya berlangsung dari pertengahan hingga akhir bulan desember tiap tahunnya. Olehnya itu, jika anda pencinta budaya dan gemar berwisata, hanya ada satu kata, Jangan Mati Sebelum Ke Toraja.

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,