Politik Itu Perlu Sedikit Cerdik, Licik, Picik dan Munafik

Wednesday, October 24th 2012. | BERITA, NASIONAL, SERBA-SERBI

politikPolitik Itu Perlu Sedikit Cerdik, Licik, Picik dan Munafik. Dalam dunia politik, tidak istilah kawan atau lawan sejati semua bisa berubah dalam hitungan hari, jam, menit bahkan detik. Lawan hari ini belum tentu besok, begitupun sebaliknya kawan hari ini bisa jadi akan menjadi lawan di kemudian hari. Politik itu penuh dengan intrik dan taktik untuk menuju satu obsesi yang mutlak untuk dicapai oleh sang politikus yakni kekuasaan, politik bersih hanya sebuah wacana dan sulit untuk diterjemahkan dalam pengaplikasiannya.

Teori klasik Aristoteles mengatakan bahwa Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. sementara pendapat lain mengatakan bahwa politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Politik juga di anggap sebagai seni memerintah, mengedalikan, menyelenggarakan sebuah pemerintahan.

Berbagai pandangan politik yang dianut oleh para politikus merupakan pencitraan pribadi yang terangkum dalam bentuk idealisme masing-masing individu yang terjun dalam dunia politik. Kebersahajaan, kewibawaan dan Performa adalah magnet untuk menggaet kepercayaan masyarakat dan sekaligus menunjukkan eksistensinya dalam menerapkan prinsip-prinsip politiknya.

Dari sekian pandangan dan idealisme politik, tidak dapat dipungiri bahwa Politik itu perlu sedikit sikap cerdik, licik, picik dan munafik.  Berikut ini pembahasannya :

1. Cerdik

Mungkin kita pernah mendengar atau membaca dongeng atau kisah tentang Si Kancil dan buaya di mana saat sang kancil akan mencoba untuk mencoba kancil dan buayamenyeberang sungan namun tiba-tiba dihadang oleh beberapa ekor buaya dan dengan suara mengancam seekor buaya berkata pada sang Kancil ;

“Hari ini adalah hari terakhirmu, kamu akan menjadi santapan empuk kami!” kata sang buaya.

Sang Kancil dengan kecerdikannya menjawab,”Baiklah saya rela dan ikhlas namun sebelum kalian menyantapku, saya ingin menghitung jumlah kalian agar semuanya dapat bagian dan saya mohon kalian berbarislah dari tepi sini hingga tepi seberang sana”.

Tanpa pikir panjang, semua buaya yang ada di situ berbasi dari tepi hingga ke tepi seberang. Lalu kancil mulai melompati punggung demi punggung sang buaya dan mulai berhitung” 1, 2,3,4 ,5 dan seterusnya” hingga sang kancil menyeberangi sungai tersebut.

Setibanya di seberang sang kancil lalu berpaling dan berucap dengan nada sedikit mengejek, “Wahai para buaya, terima kasih telah sudi menjadi jembatanku untuk menyeberangi sungai ini” kata sang kancil sambil berlalu.

Demikian halnya dalam berpolitik, segala kecerdikan akan dilakukan termasuk memanfaatkan lawan untuk menggapai tujuan.

2. Licik

Sukses dalam berpolitk tidak terlepas dari teori strategi dengan memanfaatkan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (chance) dan tantangan Licik(threat). Kakulasi ini wajib dikuasai bagi setiap orang yang ingin terjun di dunia politik dan untuk memuluskan semua ini, dibutuhkan sedikit sikap licik dalam pemanfaatannya. Bagaimana kita memanfaatkan kekuatan lawan untuk memukulnya kembali? Bagaimana memanfaatkan kelemahannya untuk menjadikannya semakin terpuruk? bagaimana melihat setiap peluang yang ada untuk untuk tampil sebagai pemenang? dan bagaimana menghadapi setiap tantangan dan mencari solusinya.

Orang licik mempunyai banyak akal untuk menjatuhkan lawan politiknya, pandai bermanipulasi, memiliki segudang trik, berlindung di balik topeng dan tidak menutup kemungkinan akan menghalalkan segala cara demi sebuah kekuasaan.

3. Picik

Orang picik identik dengan sikap hemat, irit, sempit (tidak luas). Orang picik mampu menghasut dan memanfaatkan orang lain berbuat keburukan atau kejahatan namun ia tidak pernah tampak kepermukaan dan dia mendapatkan keuntungan dari aksi tersebut. Orang picik lebih banyak bermain di belakang layar ketimbang tampil sebagai aktor, dia adalah dalang yang akan menggerakkan wayangnya sementara iya tak pernah tampil/kelihatan dalam setiap pementasan.

4. Munafik

Janji politik bukanlah suatu hal yang baru, iming-iming akan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik menjadi bumbu yang paling sedap untuk disajikan dalam setiap kampanye oleh setiap calon atau kandidat. Salahkah itu? tentu Munafiktidak selama hal itu bisa diwujudkan dan dibuktikan ke masyarakat setelah terpilih nanti. Tapi apa realita yang tampak selama ini? berapa banyak janji yang telah terlupakan? berapa banyak kebohongan yang telah diumbar? berapa banyak masyarakat yang kecewa dengan buah manis dari janji-janji politik yang palsu dan semu? Dan puncak dari kekecewaan itu akan berbentuk aksi peronrongan dan penghujatan bahkan berbuntut sebuah bentrok atau konflik vertikal.

Kemunafikan juga kadang kala diterjemahkan dalam bentuk kampanye suci (baca : sok suci) dengan bertameng agamis. Menggandeng para ulama, mengunjungi pesantren, adakan tabligh akbar, zikir bersama yang di dalam telah disusupi dengan misi-misi politik yang secara tidak langsung dikumandangkan oleh muballigh yang telah di pesan untuk menjadi oratornya. Padahal sesungguhnya di dalam pelaksanaan pemerintahannya sarat dengan warna-warni KKN.

Politik itu seperti main Catur

Yaahh.. itulah politik, tak ubahnya seperti main catur perlu sikap Cerdik, licik, picik dan munafik dalam memenangkan permainan. Banyak cara untuk menang dalam bermain catur namun hanya ada satu cara untuk tidak kalah yaitu JANGAN BERMAIN CATUR.

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,