Sepenggal Kisah Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Friday, November 2nd 2012. | SERBA-SERBI

ChairulTanjung Sepenggal Kisah Chairul Tanjung Si Anak SingkongSepenggal Kisah Chairul Tanjung Si Anak Singkong. Beberapa hari yang lalu, ibu saya menyaksikan Jusuf Kalla berkomentar tentang buku Chairul Tanjung si Anak singkong di salah satu televisi swasta. Ibu saya merasa tertarik dan penasaran akan isi buku tersebut dan meminta saya untuk membelikannya. Bersama seorang teman, saya berkunjung ke gramedia untuk mencari buku yang dimaksud dan ternyata tidak sulit untuk menemukan buku Si Anak Singkong tersebut karena masuk di daftar best seller, di urutan pertama lagi.

Salah satu kisah yang paling menarik dan menyentuh menurut saya adalah di bagian awal tentang bangaimana pengorbaranan seorang ibu untuk membiayai kuliah Chairul Tanjung. Berikut ini kutipannya :

Kain Halus Ibu Sebagai Biaya Kuliah

Mengingat keterbatasan dalam banyak hal terutama biaya langkah apa pun sudah harus saya pertimbangkan dengan matang, termasuk setelah lulus sekolah menengah atas dan mulai akan menapaki perguruan tinggi.

Tiada cita-cita khusus saya pegang untuk sekian puluh tahun ke depan, tiada pilihan spesifik akan kuliah di universitas mana. Kala itu awal tahun 1980. satu-satunya pertimbangan adalah universitas negeri. Mengapa? Biaya yang dikeluarkan murah. Kalau tidak dapat masuk di negeri, bisa dipastikan saya tidak akan pernah kuliah, karena selain dipastikan biaya di kampus swasta lebih mahal, juga sedikit sekali pilihan. Tidak, tidak ada pilihan universitas swasta, kuliah saya harus di negeri.

Jurusan IPA saat SMA memberi saya pilihan jauh lebih luas saat mendaftar di perguruan tinggi. Sistem pendaftaran universitas negeri kala itu memperbolehkan saya mengambil tiga jurusan berbeda di lima univesitas. Pilihan pertama Teknik Sipil Perencanaan Institut Teknologi Bandung, pilihan kedua Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, dan pilihan ketiga adalah Fakultas Farmasi juga di Universitas Indonesia. Tidak mungkin saya mengambil jurusan Kedokteran Umum karena kakak kandung saya, Chairil Tanjung, telah mengambil jurusan tersebut, juga di Universitas Indonesia. Rasanya tidak enak ada dua bidang yang sama dalam satu keluarga. Saat itu, dalam skala kecil saya telah pertimbangkan mengenai sinergi dalam lingkungan terkecil, khususnya keluarga.

Selepas shalat subuh, semangat bercampur grogi di hati, saya menuju Parkir Timur Senayan, Jakarta, tempat pengumuman kelulusan Ujian masuk PErguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Ketika itu, kawasan Senayan terlalu masih pagi, kabut masih tampak menyelimuti pepohonan, sementara mentari masih malu-malu keluar dari peraduannya. Saat itu ribuan, bahkan mungkin puluhan ribu, calon mahasiswa sudah riuh berkumpul. Kertas koran tampak berserakan d mana-mana. Di satu kerumunan tampak bersorak gembira, sedangkan di sisi lain tidak sedikit calon mahasiswa yang menundukkan kepala, bahkan ada juga yang menangis. Campur aduk antara canda tawa sekaligus duka dan air mata.

BukuChairulTanjung Sepenggal Kisah Chairul Tanjung Si Anak SingkongSaya sendiri setengan melompat kegirangan karena nama saya tertera di situ. “LULUS!” Alhamdulillah, saya diterima di Fakultas Kedokteran Gigi UI. Bagi saya, yang penting bisa diterima di PTN. Akhirnya saya bisa menyampaikan berita gembira ini kepada kedua orang tua tercinta di rumah.

Selain menyampaikan kabar baik, saya juta harus memberi tahu orang tua besarnya uang kuliah di FKG-UI. Total uang yang harus dibayarkan ke kampus saat itu sebesar Rp. 75.000. Rinciannya, sebesar Rp. 45.000 untuk uang kuliah selama satu tahun dan Rp 30.000 untuk biaya administrasi, uang jaket, dan sebagainya.

Biaya kuliah tersebut jauh di atas uang jajan teman-teman mahasiswa yang mayoritas memang dari keluarga berada. Entah bagaimana caranya, ibu hanya meminta saya menunggu beberapa hari untuk mendapatkan uang tersebut. Dan benar, sesuai janjinya, dengan tersenyum beliau memberikan sejumlah uang yang saya minta. Dengan sumringah saya datangi kampus untuk menyelesaikan semua proses adminstrasi. Akhirnya, Di tahun 1981, saya resmi terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Bukan Jurusan Unggulan

Dalam strata sosial kehidupan kampus UI, FKG saat itu bukanlah sebuah jurusan unggulan jika dibandingkan dengan jurusan Kedokteran dan Jurusan Ekonomi. Setiap angkatan, jumlah mahasiswa di kedua jurusan itu selalu mencapai ratusan orang. Sementara di FKG, angkatan 1981 hanya kurang dari seratus mahasiswa, dan lebih dari 80 persennya adalah wanita. Ini merupakan kondisi yang menyenangkan, dan saya termasuk salah satu dari belasan mahasiswa pria di FKG saat itu.

Ketika saya diterima di FKG, rektornya waktu itu adalah Prof. Dr. Mahar Mardhono dari Fakultas Kedoktern. Ketika itu seolah-olah telah ada konsensus pembagian tugas pada dua jurusan unggulan di UI. Fakultas Kedokteran diberi tanggung jawab mengurus universitas, lengkap dengan susunan pengurus rektoratnya, sedangkan Fakultas Ekonomi tidak kalah bonafide, mereka diberi tanggung jawab mengurus negara. Hampir semua menteri berasal dari FE-UI, seberu saja Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof. Dr. Saleh Afif, Prof. Dr. J.B. Sumarlin, Prof. Dr. Ir. Mohammad Sadli, Hingga Prof. Dr. Emil Salim. Oleh karena itu tidak heran jika penggalan mars kerap dilantunkan oleh para mahasiswa baru FE-UI : “…empat tahun jadi sarjana, jabatan menteri menantinya….”.

Ya…, memang, kuliah di Fakultas Ekonomi UI bisa diselesaikan dalam wakru yang relatif singkat, empat tahun, sedangkan kami yang kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi setidaknya perlu waktu lima tahun untuk menyandang gelar sarjana.

Mungkin karena dianggap aktif berpendapat dan memiliki postur tinggi besar, saat posma (ospek mahasiswa baru) saya terpilih sebagai ketua angkatan, waktu itu mendapat julukan “jenderal angkatan”. Hari berganti, kondisi inipun berlanjut di keseharian kampus. Secara aklamasi teman-teman menunjuk saya sebagai Ketua Mahasiswa FKG Angkatan 1981. Beruntunglah di tahun tersebut istilah “emansipasi” belum begitu terkenal luas sehingga mayoritas mahasiswi hanya mengiyakan saja. Bayangkan saja jika saat itu para wanita sudah menyadari tentang persamaan hak da kedudukan dengan pria, sepertinya akan lebih sulit bagi saya untuk bisa mengadi Ketua Mahasiswa FKG.

Di tengah keterbatasan kondisi ekonomi keluarga, bagaimana selanjutnya? Bagi saya, bukanlah sebuah halangan berarti untuk naik turun bus sebagai alat transportasi dari rumah ke kampus. Menyesal? Tidak sama sekali. Makan di kantin mahasiswa, warung tegal Toyib yang di kalangan teman-teman dikenal sebagai “Warung Toyib” dengan paket CM, capek meriah. Setengah porsi nasi, ditambah sayur, tempe dan tahu, dan tentu saja sambal. Semua terasa nikmat, sungguh nikmat.

Sangat Tegas

Kedua orang tua saya terkenal amat tegas dalam mendidik kami berenam sebagai anak-anaknya. Orang tua kami mempunya prinsip : “Agar bisa keluar dari jerat kemiskinan, pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dengan segala daya dan upaya”. Apa pun akan mereka upayakan demi pendidikan formal anak-anaknya, sebagai bekal utama kesuksekan kehidupan di masa datang.

Suatu sore, ibu saya, Ibu Halimah, yang di kalangan tentangga dekat biasa dipanggil Mpok Limah, asli dari Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, berkata terus terang bahwa untuk ongkos kuliah saya saja ibu harus pontang-panting untuk mendapatkan uang. Dengan genangan air mata, ibu menatap mata saya dengan tajam sambil menepuk pundak dan berbicara, “Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dengan menggadaikan kain halus ibu. Belajarlah dengan serius, Nak”.

Mendengar itu, bumi tempat saya berpijak seolah berhenti berotasi, jantung mendadak berhenti berdetak, lemah seolah tanpa darah. Bayangkan, baru saja saya menikmati keceriaan bertemu teman-teman baru dengan semangat menggebu ketika memulai perkuliahan di FKG-UI, tiba-tiba mendengar berita menyedihkan dari ibu. Saya sangat terpukul, shock, dan lemas. Tapi, justru itu semua menjadi pemicu dan sejak itu saya bertekad untuk tidak meminta uang lagi kepada orang tua saya. Saya harus bisa membiayai semua keperluan kuliah di UI. Saya harus berusaha mencari uang sendiri dengan cara apa pun. Tidak sepeser pun meminta lagi uang kepada ibu. Saya harus bisa! Bismillah!

Demi Anak

Hingga kini, mungkin beberapa warga kampung di Gang Abu, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, masih mengingat kebiasaan saya setelah dulu sempat memperhatikan. Beberapa di antara mereka pasti sering menyaksikan saya membaca koran dan berlama-lama berada di WC umum di pojok kampung.

WC umum milik semua orang yang tinggal di kawasan Gang Abu. Sebuah tempat buang hajat yang tidak dilengkapi septic tank terpisah seperti fasilitas hajat pada umumnya sekarang, tetapi langsung ke selokan di bawahnya. Tempat buang hajat bertutup seng, terpal, tripleks, apapun yang ada karena saat itu tak ada satu orang pun mengkoordinasi pembenahan. Kira-kira seperti itulah gambaran WC umum tersebut.

Gang Abu, Batutulis, Tahun tujuh puluhan merupakan salah satu daerah terkumuh di Jakarta. Jalanan tanah, becek dan banjir di kala hujan, panas gersang berdebu saat musim kemarau. Semua rumah di sepenjuru kampung merupakan rumah petak kecil beratap pendek, dinding tambal sulam menggunakan beragam bahan seadanya. Tak ada satupun bangunan bertingkat. Daerah tersebut “berubah wajah” setelah dilakukan pembenahan melalui proyek Mohammad Husni Thamrin (MHT) pada era Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Ali Sadikin.

Tinggal di lingkungan kumuh di Gang Abu, dengan berbagai permasalah dan kesulitan yang saya alami tidak serta-merta harus diceritakan kepada teman-teman di kampus. Tidak! Ini ranah privacy saya dan segala masalah yang ada harus bisa diselesaikan sediri. Saya senantiasa harus bisa tersenyum saat bertemu teman-teman di kampus, juga harus dapat menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya saat mereka sesekali menanyakan kondisi kehidupan saya. Enggan saya umbar air mata apabila hal tersebut hanya memancing barisan tanya berikutnya.

Tekad saya sudah bulat. Sebutlah ini semacam dendam terhadap keadaan yang sama sekali bukan merupakan kealfaan kedua orang tua atas ketidakpunyaan, juga sama sekali tidak menyalahkan risiko politik yan dialami bapak karena berseberangan ideologi dan pemikiran dengan penguasa waktu itu, meski kecintaan bapak kepada Tanah Air tidak bisa diragukan, tak terbantahkan. Saya tahu benar apa yang sudah dilakukan orang tua. Mereka telah amat keras berusaha melakukan apa pun demi anak-anaknya.

Demikianlah penggalan kisah di bagaian awal buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong yang merupakan tokoh yang patut diteladani prinsip dan kegigihannya. Dan masih banyak cerita atau kisah-kisah yang dipaparkan oleh Chairul Tanjung dalam bukunya yang lagi menjadi Best Seller ini. Bagi anda yang ingin mengetahui kisah dan cerita lengkap dari buku ini, anda bisa datang ke Gramedia terdekat di kota anda, dijamin anda tidak akan menyesal dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp. 58.000 untuk membeli buku yang terdiri dari 384 halaman ini. Dan semoga menjadi inspirasi bagi kita semua dari Sepenggal Kisah Chairul Tanjung Si Anak Singkong.

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,