Bisakah Kita Sejujur Orang Jepang?

Saturday, November 10th 2012. | NASEHAT, SERBA-SERBI

KejujuranBisakah Kita Sejujur Orang Jepang? Saya sengaja mengambil judul ini untuk menggambar betapa kejujuran warga Jepang yang terkenal ke seluruh penjuru dunia. Selain mereka menanamkan semangat samurai, mereka juga menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak dan generasinya dan bagaimana menghormati dan memberikan penghargaan terhadap orang yang bersikap jujur terhadap sesama. Idiologi ini di wariskan secara turun-temurun hingga abad moderen ini. Nilai kejujuran ini dikembangkan dan diterapkan dalam bentuk beberapa prilaku seperti budaya malu, disiplin dan tidak ingin berutang budi.

Beberapa Cerita dan kisah nyata dari penerapan nilai-nilai kejujuran di Jepang

1. Orang Jepang Terkenal Jujur.

Cerita ini berawal dari kejadian gempa berkekuatan 8,9 Skala richter pada tanggal 11 Maret 2011 11 Maret 2011 di Jepang. Di saat para korban bencana antri untuk pengambilan makan siang di sebuah dapur umum, tidak jauh dari tempat tersebut tiba-tiba seorang korban bencana yang mengalami depresi karena seluruh anggota keluarganya meninggal berjalan di tengah jalan dengan membawa sebuah karung besar, ternyata orang tersebut termasuk salah satu orang yang kaya raya di kota itu. Tak lama berselang, orang tersebut membuka karung bawaannya yang ternyata isinya adalah uang yang selanjutnya dia hamburkan di sepanjang jalan yang ia lalui. Dari kejauhan beberapa orang menyaksikan kejadian itu namun tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya dan berfikir untuk mengambil uang yang dihamburkan tersebut. Bahkan beberapa orang lalu-lalang di jalan itu dan mereka seolah-olah tidak tergiur sama sekali untuk mengambil uang yang berserakan di jalanan itu.

Seorang uztas dari Indonesia yang menceritakan kisah nyata ini menghampiri salah satu warga dan bertanya kepadanya :

Ustaz : Mengapa anda dan semua orang di sini tidak ada yang berniat mengambil uang yang berserakan tersebut.

Warga Jepang : Untuk apa? uang itu bukan hak kita. Biarkanlah hal ini terjadi, semuanya akan menjadi baik-baik saja, dan uang itu tetap menjadi hak sang pemilik. Lihat saja nanti.

Ustaz : Oooooh begitu? Mengapa orang Jepang sejujur ini? Bisakah saya mengetahuinya.

Warga Jepang : “Begini, Kami sebagai warga jepang menganut Pilosofi bunga Sakura. Biarlah hidup kami singkat, tapi berguna bagi orang banyak dengan mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai kejujuran sebagaimana bunga sakura yang kehadirannnya singkat namun lebih banyak menebarkan keindahan kemudian gugur untuk dikenang”.

Ustaz : oohhh… Terima kasih atas ilmu dan penjelasan anda. Sembari sang Ustaz berlalu.

Tidak lama berselang, sebuah mobil kebersihan singgah di jalan itu lalu tampak dia mengumpulkan semua uang yang berserakan dan memasukkannya ke dalam kantung sampah yang besar dan membawanya ke sebuah pos pengaduan yang tak jauh dari tempat itu. Di pos pengaduan, petugas lalu mencari sang pemilik uang dan keluarganya yang akan bertanggung jawab untuk mengurus orang yang depresi tersebut untuk menjalani terapi psikologi yang selanjutnya akan menyerahkan kembali uang yang telah dia hamburkan di jalanan sebelumnya. Subhanallah… ! Ucap sang Ustaz mengakhiri kisahnya.

2. Disiplin dan menghargai waktu.

Sikap jujur juga dikembangkan oleh orang Jepang dalam bentuk sikap disiplin dan menghargai waktu. Cerita ini berasal dari salah seorang sahabat saya di kampung waktu dia magang ke Jepang. Dia bercerita bahwa orang Jepang sangat menghargai waktu, Suatu hari dia mengadakan perjanjian dengan salah seorang petinggi perusahaan pukul 8 pagi. Yaah, dasar orang Indonesia terbiasa dengan jam karetnya dan menganggap enteng masalah waktu, dia dengan santainya menuju kantor petinggi perusahaan tersebut. Setibanya di ruangan si boss, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 8 lewat 5 menit. Dengan Santainya si Boss Berkata : “Saya tidak lagi punya waktu untuk anda. Anda telah menghianati kesepakatan kita. Silahkan keluar dan jangan pernah membuat janji lagi dengan saya dan jangan lagi pernah berharap untuk kerja sama dengan saya. Seharusnya anda memberitahukan sebelumnya jika anda menemui kendala dan mengabarkan bahwa anda akan terlambat maksimal 10 menit”. Dengan penuh rasa kecewa bercampur kagum akan kedisiplinan si Boss, akhirnya sahabat saya mengucapkan terima kasi sambil keluar dan berlalu.

3. Orang Jepang terkenal dengan Budaya Malu.

Tadahiro Matsushita

Tadahiro Matsushita

Dalam sejarah pemerintahan Jepang, berapa banyak Menteri yang mengundurkan diri atau anak SD atau SMP yang melakukan Harakiri (bunuh diri) yang sebagian besar disebabkan oleh rasa malu. Sebut saja Menteri Jasa Keuangan Jepang, Tadahiro Matsushita yang bunuh diri pada Tanggal 10 September lalu. Dia bunuh diri dicurigai masalah skandal perselingkuhannya dan kasus korupsi yang melanda lembaga yang ditanganinya. Mantan Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara pada tahun 2011 mengundurkan diri karena di tuduh menerima uang dari orang asing yang nilainya sebesar 50.000 yen (5,3 Jt).

Walaupun demikian Maehara merasa malu dan meminta maaf atas keresahan publik akan pemberitaan tersebut. “Saya mohon maaf kepada rakyat Jepang atas keresahan politik ini,” kata Maehara dalam jumpa pers di Tokyo, Minggu 6 Maret 2011, seperti dilaporkan stasiun berita CNN. Dia memutuskan untuk mundur walaupun sebenarnya uang yang diterima tersebut merupakan pemberian dari teman lamanya namun undang-undang setempat melarang politisi untuk menerima uang sepeser pun dari orang asing.

4. Tidak mau berutang budi.

Kisah nyata ini dari seorang teman saya bernama Makmur yang juga pernah magang di Jepang. Suatu ketika Makmur secara tidak sengaja menemukan sebuah dompet yang tergeletak di pinggir jalan. Lalu iya mengambil dompet itu, dan teringat akan cerita temannya bahwa jika menemukan sesuatu yang bukan milikmu, segera bawalah barang atau benda itu ke tempat pengaduan terdekat. Lalu ia melaporkan hal tersebut ke pos pengaduan terdekat. Sang petugas meminta dia menitipkan nama dan nomor telefon si Makmur sebelum mengamankan dompet itu selanjutnya Makmur pamit untuk pulang.

Berselang beberapa hari, handphone-nya berdering dan ternyata telepon dari pos pengaduan yang memintanya datang sebelum menyerahkan dompet kepada si empunya. Karena kebetulan waktu itu si Makmur libur kerja, dia menyempatkan diri untuk datang. Sesampainya di pos pengaduan, petugas meminta si Makmur untuk menandatangani surat persetujuan penyerahan barang kepada si empunya karena dompet tersebut tidak akan diserahkan sebelum dia menyetujuinya. Lalu tanpa pikir panjang si Makmur menandatanganinya dan petugas meminta Makmur menyerahkan langsung dompet yang ternyata berisi KTP seumur hidup yang pengurusannya hanya sekali seumur hidup dan merupakan salah satu barang yang sangat berharga di Jepang. Si empunya dengan sikap sedikit membungkuk menerima dengan senang hati dan mengucapkan terima kasih. Sebelum mereka berpisah, Sang pemilik dompet meminta nomor HP si Makmur sebagai tanda persahabatan.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tidak disangka sang pemilik dompet menelfonnya dan membuat janji di sebuah taman yang mereka sepakati. Setelah bertemu, ternyata sang pemilik dompet hanya ingin memberikan sebuah bingkisan ucapan terima kasih atas penemuan dompetnya. Awalnya Makmur menolaknya, namun setelah di jelaskan bahwa¬† “kami orang Jepang tidak ingin berutang budi kepada orang lain, untuk menghargai kejujuran anda, terimalah pemberian bingkisan ini”. Katanya. Barulah Makmur menerimanya.

Kejadian serupa telah 2 kali dialaminya selama magang di Jepang dan Alur ceritanya sama, Semua berakhir dengan sebuah bingkisan sebagai penghargaan akan sikap jujur dan tak ingin berutang budi. Dan dari beberapa cerita dan kisah nyata di atas, patutlah kita bertanya pada diri sendiri, Bisakah Kita Sejujur Orang Jepang?

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,