Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat

Tuesday, February 12th 2013. | SERBA-SERBI

evakuasi korbanPenanggulangan bencana dewasa ini tidak lagi menjadikan korban bencana sebagai objek melainkan berusaha agar mereka menjadi bagian dari orang yang menangani sekaligus menanggulangi masalah bencana itu sendiri atau biasa disebut dengan istilah penanggulangan bencana berbasis masyarakat (community based disaster management). Olehnya itu di sini dibutuhkan peran aktif bagi setiap individu yang menjadi bagian dari bencana atau dengan kata lain semua pihak harus berperan dalam penanggulangan bencana.

Pada setiap kejadian bencana sering kita jumpai masyarakat yang seolah tidak lagi berdaya, tidak mau melakukan apa-apa lagi dan hanya berharap bantuan dari orang atau pihak lain yang segera datang untuk mengeluarkan mereka dari suasana yang sedang dialaminya. Sementara di satu sisi bencana membutuhkan penanganan secara bersama-sama  baik dari peran pemerintah, pengusaha maupun dari pihak masyarakat itu sendiri.

Dapur Umum lapangan

Pada umumnya, orang yang paling banyak bersentuhan langsung dengan korban bencana adalah relawan seperti Tagana, PMI, SAR, Pramuka, dan lain-lain disamping petugas bencana lainnya. Di sinilah dituntut peran relawan dan petugas bencana untuk memberikan pemahaman bagi para korban untuk turut membantu atau terlibat dalam penangan bencana karena dalam bencana selalu ada kendala dan potensi, dan korban yang dalam hal ini masih sehat, segar dan bugar masuk dalam kategori potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah bencana tersebut secara bersama-sama.

Dapur umum

Adapun langkah yang dapat ditempuh dalam melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana adalah sebagai berikut :

  1. Mancari informasi tentang keadaan lingkungan sekitar akan segala kondisi yang bisa dimanfaatkan di daerah bencana dan meminta peran aktifnya untuk bersama-sama bekerja dalam menangani bencana yang sedang terjadi. Misalnya meminta informasi tentang keadaan sekitar, potensi apa yang dimiliki daerah tersebut, daerah mana saja yang sulit dijangkau jika ada dan bagaimana cara untuk bisa menjangkaunya dan lain-lain
  2. Melibatkan tokoh yang berpengruh dalam masyarakat dan bekerjasama.
  3. Memberikan pemahaman tentang resiko bencana dan cara penanganannya secara dini. Misalnya bagaimana cara menolong orang yang terluka atau patah, siapa yang harus didahulukan untuk ditolong, dan lain sebagainya.
  4. Memberikan dorongan dan motivasi dan pemahaman kepada korban bahwa penanganan bencana bukan hanya tanggungjawab pemerintah dan petugas bencana melainkan korban (yang memungkinkan) juga menjadi bagian dari orang yang bertanggung jawab dan harus turut berpartisipasi bukan hanya berpangku tangan.
  5. Mengajarkan cara pemasangan, penggunaan alat dan teknik pertolongan secara singkat dan mudah difahami.
  6. Memanfaatkan tenaga yang masih sehat dan bugar untuk ikut terlibat dalam penanganan bencana, Para pria bisa membantu dalam hal membuat shelter (hunian sementara), evakuasi korban, dan lain-lain. Sementara kaum wanita bisa membantu petugas di dapur umum.
  7. Bagi masyarakat yang terlibat, hendaknya diberikan sebuah atribut agar mereka merasa bagian dari petugas bencana dan secara psikologis akan menumbuhkan rasa bangga bagi dirinya. Hal ini juga memudahkan kita untuk mengidentifikasi mereka yang ikut menjadi bagian penanggulangan bencana.
  8. Setidaknya relawan atau petugas bencana menjadi manajer bagi korban yang ikut terlibat dalam mengarahkan mereka agar penanganan sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Di sini dituntut kerja yang profesional dan tidak mengandalkan insting semata bagi seorang petugas bencana.

Inti dari Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat adalah bagaimana masyarakat terlibat dalah menangani bencana bukan menjadi objek semata untuk penanganan yang maksimal dan efesien dalam penaggulangan bencana.

tags: , , , , , , , , , , , , , ,