Diam atau Bicara

Tuesday, May 14th 2013. | NASEHAT, RELIGY

diam atau bicaraDiam atau Bicara, dua pilihan yang kadang kala membuat kita dilema dalam menentukan sikap, karena pada dasarnya kedua pilihan ini adalah pilihan yang kontras dan dapat menimbulkan berbagai macam efek baik itu efek positif maupun negatif (itu menurut guru fisika, hehehe). Tidak selamanya diam itu baik dan tidak selamanya pula bicara itu baik, meski ada pepatah yang mengatakan “Diam itu emas” namun ada juga yang membantahnya “Diam itu emas dan bicara itu berlian

Pada kondisi tertentu, ada kalanya kita harus diam karena sebuah tuntutan yang mengharuskan hal itu, contohnya saja ketika anda menjadi pendengar dalam sebuah acara seminar atau sedang mengikuti khutbah di masjid atau gereja. Di sinilah kearifan seseorang dapat terukur ketika mereka mampu menghargai orang yang sedang berbicara di hadapannya dengan sikap diam. Coba anda bayangkan jika pada suatu ketika seseorang berkhutbah atau berpidato di atas podium sementara semua yang hadir juga ikut bicara? maka bisa di pastikan informasi yang disampaikan oleh sang pembicara tidak akan diterima secara maksimal.

Menurut penelitian, ketika orang berbicara, maka indra pendengarannya hanya akan berfungsi 20% dari semestinya. Jika tidak percaya, silahkan anda coba sendiri.

Di sisi lain, terkadang seseorang dituntut untuk bicara pada kondisi tertentu untuk menyelesaikan masalah, misalnya seorang pencuri sedang diinterogasi oleh polisi atau seorang hakim meminta kesaksian seseorang di persidangan.

Kelemahan kita saat ini, ada kalanya kita dituntut bicara malah diam, dan kita berbicara ketika diharapkan diam. Banyak hal yang sering kita bicarakan atau kita sampaikan kepada orang lain mengenai keburukan seseorang yang seharusnya tidak keluar dari mulut kita. Bahkan tak jarang ada orang yang menggunting dalam lipatan dengan menceritakan aib atau keburukan teman sendiri entah itu Gibah atau fitnah.

Tidaklah memuliakan kita ketika menceritakan atau mengungkit keburukan orang lain
dan tidak akan membuat hina diri kita ketika memuji atau menceritakan kebaikan seseorang.

Di sinilah dibutuhkan sebuah kebijakan seseorang untuk menempatkan diam atau bicara dalam kehidupan sehari-hari. Jika memang harus diam, mengapa kita harus bicara, dan jika harus bicara mengapa harus diam. Bicara dan diam adalah 2 sisi yang kontradiktif yang bisa mendatangkan manfaat atau mudharat, tiggal bagaimana kita menenmpatkannya kapan kita harus diam dan kapan kita harus bicara. Olehnya itu, bicaralah jika itu dianggap perlu dan diamlah jika memang itu harus anda lakukan. Lidah memang tidak bertulang, namun perlu kontrol untuk menyikapi dalam hal Diam atau Bicara.

tags: , , , , , , ,