Ketika Korupsi Telah Menjadi Budaya

Friday, April 11th 2014. | NASIONAL

Berantas KorupsiAnda tak perlu mengangkat senjata atau menyambung nyawa seperti para pahlawan pejuang kemerdekaan dulu, Cukup jangan korupsi saja itu sudah menolong negara kita (Ahok/Basuki Cahya Purnama). Ungkapan ini selayaknya kita renungi bersama melihat kondisi negara kita yang seolah tak bisa lagi disembuhkan dari penyakit mental stadium tiga ini. Penyakit yang bernama korupsi ini seolah telah mengakar dan mendarah daging dalam tubuh negara yang telah berumur lebih dari setengah abad ini.

Kesadaran para pejabat, pedagang, pengusaha hingga masyarakat kecil untuk berlaku jujur sudah sangat sulit untuk ditemukan hari ini seolah korupsi merupakan suatu kebutuhan yang hanya memikirkan kepentingan pribadi atau golongan, tidak lagi tampak rasa takut, was-was atau malu ketika seseorang untuk melakukan korupsi. mental mereka sepertinya telah dikuasai oleh nafsu serakah yang ditiupkan oleh iblis kedalam otak dan hati mereka.

Bercermin pada 2 Umar yakni Umar Bin Khattab r.a. dan Umar Bin Abdul Aziz yang merupakan pemimpin Islam yang jujur dan adil serta mengedepankan kepentingan masyarakatnya diatas kepentingan pribadinya. Sejarah mencatat bagai mana Umar Bin Khatab memikul sendiri gandum untuk diantarkan kepada seorang warga yang ditemukannya tengah memasak batu hanya untuk menenangkan bayinya yang menangis kelaparan dan berharap bayinya tertidur karena tak ada lagi yang bisa dimakannya. Begitu pula Umar Bin Abdul Aziz yang tidak ingin menggunakan penerangan dinas untuk kepentingan pribadinya dan memilih menggunakan lentera untuk urusan pribadinya. Berdasarkan pada kisah singkat 2 tokoh Umar di atas, kita patut bertanya, masih adakah pemimipin seperti mereka saat ini?

Saudaraku, Negeri kita ini sangatlah kaya. Kita dapat mengklaim bahwa negara ini sebenarnya adalah negara yang paling kaya di dunia dengan limpahan sumber daya alamnya dan tanah yang subur. Banyak negara yang bertahan saat ini bergantung pada sumber daya yang kita miliki, baik itu emas, nikel, besi, batu bara, aspal, rempah-rempah dan bahkan ketersediaan oksigen. Namun mengama kita masih tampak seperti negara miskin? Semua itu tidak terlepas dari sistem dan manajemen negeri ini kurang sehat. Banyak pejabat membuat sebuah kebijakan untuk kepentingan dirinya sendiri, memakan hak orang lain, mengumpulkan harta yang bukan haknya, bahkan yang parahnya lagi mereka tidak sungkan-sungkan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang tercela ini baik secara halus maupun secara terang-terangan.

Berbagai program dan kebijakan pemerintah yang KATANYA memihak kepada masyarakat kecil nyatanya hanya merupakan sebuah kedok untuk memperkaya pihak-pihak tertentu dan lebih banyak dikeruk untuk kepentingan pribadi atau golongan. dan sudah sekian lama ini berlangsung namun buktinya masyarakat belum juga sejahtera. Berapa banyak anggaran pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat yang dikucurkan, tapi hanya berapa persen yang tersalurkan dan tepat sasaran?

Saya pernah bertanya kepada seorang pengusaha, mengapa korupsi di negeri ini susah dihilangkan? Jawabnya sederhana “yang halal sudah habis, dan yang haram tinggal sedikit, dan yang sedikit inilah diperebutkan”. Memang mental generasi saat ini sudah rusak, nilai-nilai kejujuran sudah sangat sulit untuk ditemukan yang padahal sebenarnya satu kata ini jika ditanamkan sejak dini dan dipupuk kepada generasi kita niscaya negeri kita akan maju dan mengalahkan negara-negara Asia bahkan Dunia.

Korupsi, Kolusi, Nepotisme yang dilakukan seseorang tidak akan pernah membawa rasa aman dan tenang dalam dirinya, mereka akan selalu dihantui rasa takut dan tidak tenang. INI SEBUAH KEPASTIAN yang telah ditetapkan oleh Allah.

tags: , , ,