Filosofi Ikan dan Kail

Friday, May 9th 2014. | SERBA-SERBI

Kali ini saya akan membahas tentang filosofi ikan dan kail. Mungkin anda berfikir saya akan membahas masalah Mancing Mania atau Mata Pancing yang sering disiarkan oleh TV swasta, Maaf, anda salah. Meskipun sedikit ada hubungannya namun kali ini saya akan mengulas sedikit nilai filosofi yang terkandung pada 2 substansi yang berbeda ini. Hal ini akan kita kaji baik secara terpisah maupun mengaitkan antara keduanya, berikut ini ulasannya.

FIlosofi Ikan dan Kail

Filosofi Ikan

Dalam ajaran agama Islam, memakan bangkai itu adalah haram namun ada jenis bangkai yang halal untuk di makan dan salah satunya adalah bangkai ikan berdasarkan beberapa dalil seperti di bawah ini :

“Telah dihalalkan bagi kamu sekalian binatang buruan laut dan makanan dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan”.(QS. Al-Maidah : 96)

Telah dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah itu adalah hati dan limpa”. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

“Air laut adalah suci dan halal bangkainya.” (HR. Al-Tarmidzi, dia berkata,:Hadits Shahih”)

Ini menunjukkan suatu keistimewaan pada hewan ini, dan keistimewaan lain yang dimiliki oleh ikan adalah bagaimana ikan yang hidup dilaut yang notabene airnya asin namun belum pernah kita menemukan ada jenis ikan yang dagingnya terasa asin. Apa hikmahnya? Petuah bijak berkata,

Bergaullah sebagaimana ikan yang tidak terpengaruh dengan asinnya air laut

Filosofi hidup yang juga patut kita teladani pada hewan air ini adalah bagaimana perjuangan se ekor ikan dalam mejalani hidupnya. Ikan akan berenang ke sana kemari, ke atas dan ke bawah, mengikuti arus atau melawannya, namun satu hal yang tidak akan pernah kita temukan pada ikan adalah Ikan tak pernah berjalan (berenang) mundur. Ini memberikan isyarat bagi kita bahwa dalam menajalani hidup dan kehidupan ini, sikap pantang menyerah harus kita tanamkan dalam diri kita.

Berjuanglah seperti ikan, tak pernah mundur dalam setiap langkahnya

Filosofi Kail

Kail adalah alat yang dipakai untuk memancing ikan baik di laut, sungai, danau atau di rawa. Kail jika kita melihat bentuknya yang kecil, namun manfaatnya besar yakni untuk menangkap ikan. Dalam menggunakan kail, ada filosofi yang berhubungan dengan dunia bisnis yang mengatakan bahwa

Jika ingin mendapatkan ikan yang besar, gunakanlah kail dan umpan yang besar pula

Filosofi ini sepertinya bertentangan dengan prinsip ekonomi yang mengatakan “berusaha dengan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jika kita menadalami lebih jauh, kebenaran itu justru terdapat pada prinsip filosofi kail dimana dunia bisnis kita membutuhkan modal dan usaha yang besar untuk mendapatkan hasil yang besar pula.

Filosofi Ikan dan Kail

Setelah mengulas tentang filosofi ikan dan filosofi kail, kini saya akan menggabungkan antara keduanya. Antara ikan dan kail memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam kehidupan ini banyak kita temukan orang yang selalu memberikan sesuatu yang besifat materi kepada orang yang kurang mampu entah dengan tujuan mengharapkan pamrih atau ikhlas dari dalam hati. Tidaklah salah jika kita bersikap penderma terhadap sesama, namun satu hal perlu dicatat bahwa orang yang selalu dimanjakan dengan materi cenderung akan menjadi pemalas.

Isu pemberdayaan masyarakat selalu dikumandangkan oleh pemerintah namun dalam pengaplikasiannya jauh dari tujuan yang sebenarnya. Pemerintah saat ini lebih banyak memberikan ikan dibandingkan kail. Masyarakat lebih banyak dimanjakan dengan materi dibanding memberikan cara untuk untuk mendapatkan materi, padahal itu sebenarnya berdampak negatif bagi kelangsungan hidupnya. Raskin, BLT, BLSM adalah contoh bagaimana masyarakat miskin dimanjakan dengan materi bukan memberikan sesuatu kepada mereka untuk bisa lebih mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Sudah merupakan sifat manusiawi ketika orang yang selalu diberikan ikan akan menjadi manja dan selalu berharap uluran tangan dari orang lain ketimbang kita memberikan suatu alat atau pembinaan bagaimana cara agar mereka menjadi manusia yang mandiri, produktif, bisa mengurus dirinya sendiri tanpa menjadi beban orang lain.

Tidak perlu terlalu membanggakan orang yang memberimu ikan, namun berterimakasihlah pada orang yang memberimu kail.

Demikianlah ulasan saya tentang Filosofi Ikan dan Kail, semoga bermanfaat.

tags: , , ,